Selamat Datang Indonesia

Mengenang sejarah Indonesia di masa lalu, selalu menggugah semangat Nasionalis-Patriotis serta Kecintaan terhadap Bangsa dan Tanah Air - Indonesia.

Indonesia, tanah air kuuu...
Tanah tumpah darah kuuu....
Disanalah aku berdiriiii...
Jadi pandu ibu kuuu....

- MERDEKA!!!!
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Perdjoeangan Kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Perdjoeangan Kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

SISINGAMANGARAJA XII - Raja Yang Membenci Penindasan

Kamis, 01 Mei 2014

Ketika Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak, usianya baru 19 tahun. Di saat yang sama tahun 1886, hampir seluruh Pulau Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan Batak. Belanda saat waktu itu menyebut Batak sebagai De Onafhankelijke Bataklanden atau Tanah Batak yang Merdeka.

Sisingamangaraja XII yang lahir tahun 1849 di Bakkara, Tapanuli, di sebuah tempat indah di tepian Danau Toba itu memiliki nama kecil Patuan Bosar, yang kemudian digelari dengan Ompu Pulo Batu. Nama Sisingamangaraja sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu 'singa' dan 'mangaraja'. Naik tahta pada tahun 1867 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam.[1]

Pangeran Diponegoro - Tokoh Perang Jawa Yang Termasyur

Pangeran Dipanegara, juga sering dieja Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.[1]

Tuanku Imam Bonjol Sang Pemimpin Kaum Padri

Rabu, 30 April 2014

Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat pada tahun 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

Senin, 28 April 2014

Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusalaut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Ia lahir dari keluarga Tiahahu dari kelompok Soa Uluputi. Soa dalam bahasa Maluku berarti 'kelompok yang membagi masyarakat berdasarkan marganya sebagai identitas asal-usul keluarga'.

Riwayat Martha Christina Tiahahu

Martha adalah wanita pemberani yang mengangkat tombak untuk melawan Belanda. Seperti yang dituturkan oleh ahli warisnya, Merry Lekahena, berdasarkan kisah turun-temurun yang diceritakan oleh orangtuanya,

Pattimura - Sang Kapitan Sejati Dari Maluku

Pattimura atau Thomas Mattulessy (lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan Nasional Indonesia.

Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M. Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan."[1]

Admiral Keumalahayati, Panglima Wanita Yang Gagah

Jumat, 28 Maret 2014

Pernah mendengar nama kapal perang KRI Malahayati? Banyak orang yang tidak tahu, siapakah yang memiliki nama besar dan terhormat itu sehingga diabadikan sebagai nama sebuah kapal perang. Beliau adalah seorang wanita yang agung (grande dame), yang memimpin sebuah laskar pejuang yang terdiri dari para pejuang perempuan dan kebanyakan adalah janda yang ditinggal wafat suami mereka dalam perjuangan melawan penjajah. Malahayati juga seorang janda yang ditinggal syahid suaminya saat berperang melawan Portugis sewaktu akan menguasai selat Malaka, yakni pada pertempuran laut Teluk Haru. Laskar tersebut dinamai Laskar Inong Balee atau yang bermakna Laskar para Janda pahlawan. Beranggotakan 2000 orang prajurit, semuanya perempuan.

Teungku Chik di Tiro

Senin, 17 Maret 2014

Teungku Muhammad Saman (Teungku Chik di Tiro) adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro dan adik dari Teungku Cik Dayah Cut, ulama terkenal di Tiro. Ia lahir pada tahun 1836M, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh.

Teungku Muhammad Saman menjalani masa kecilnya di ligkungan pesantren. Di tempat-tempat itu ia bergaul dengan para santri. Pelajaran agama mula-mula didapat dari ayahnya dan kemudian dari pamannya. Ibunya mengajarinya menulis huruf Arab. Perhatiannya cukup besar terhadap buku-buku tasawuf karangan Imam Ghazali. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Panglima Polem IX

Panglima Polem bernama lengkap, Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud adalah seorang panglima Aceh. Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran, yang jelas ia berasal dari keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII, Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Teuku Imam Muda Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXII Mukim Aceh Besar.[1]

CUT NYAK MEUTIA

Wanita kelahiran Perlak, Aceh, tahun 1870, tiga tahun sebelum perang Aceh-Belanda meletus. Ia adalah seorang 
pahlawan Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial.

Masa perkembangannya sedari kecil hingga dewasa yang berada ditengah-tengah suasana perang, di kemudian hari sangat memengaruhi perjalanan hidupnya sebagai tokoh pejuang kemerdekaan wanita untuk rakyat Aceh.

TEUKU UMAR

Sabtu, 15 Maret 2014

Teuku Umar adalah salah seorang Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan yang mengobarkan semangat perang fi'sabilillah terhadap pasukan Belanda di Aceh.

Teuku Umar lahir di Meulaboh, pada tahun 1854, adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinan dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Teuku Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kemauan keras dan pantang menyerah. Pada usia muda, ia sudah diangkat menjadi kepala kampung. Nenek moyang Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makudum Sati.

Cut Nyak Dhien

Kamis, 13 Maret 2014

Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien), lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, pada tahun 1848 dan wafat di Sumedang, Jawa Barat, pada tanggal 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Cut Nyak Dhien adalah salah seorang Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.